Sabtu, 26 November 2016

betapa sakitnya hati ini

Awal melihatmu ada rasa tertarik di dalam hati. Aku mencoba mengumpulkan informasi-informasi tentangmu dari teman-temanmu. Awalnya, aku ingin cukup mengenalmu saja. Namun, kau yang memulai lebih dulu memulai percakapan hingga berujung pesakitan. Aku bertahan di atas pengkhianatan, sudah berbulan-bulan lamanya seperti ini. ‘Sakit’ itu yang aku rasakan, melihatmu berboncengan dengan perempuan yang menurutku itu kekasihmu, jika ia kekasihmu lalu aku ini siapa? Sakit bukan main hatiku ini.
Aku menunggu kabar darimu, sesekali ingat akan kenangan yang pernah kita bangun bersama. Aku tidak pernah tahu apa maksud dan tujuanmu saat itu hadir dalam setiap hariku dengan memberiku sejuta mimpi, namun jika tujuanmu untuk membuatku jatuh cinta, kamu telah berhasil, atau membuatku patah hati? Kamu juga berhasil, kamu berhasil melakukan dua hal itu di waktu yang bersamaan dengan sempurna. Kalau akhirnya berujung pesakitan seperti ini, aku lebih memilih untuk tidak mau mengenalmu tidak, dan tidak akan pernah.
Bayangmu terus singgah di hati ini. Ingat akan perkataan teman-temanku “Udahlah de, cowok kayak gitu enggak usah ditunggu. Percuma, dia udah milik orang lain, dia udah bahagia sama pacarnya de. Lupain” Kata-kata mereka seperti tamparan yang menyadarkanku. Namun, bagiku sangat sulit melupakanmu. Bukan aku tidak niat, akhir-akhir ini aku sengaja sibukkan waktuku dengan kegiatan berorganisasi. Tetap saja kamu tidak bisa tergantikan oleh orang lain, Jika aku dapat melampiaskan rasa sakit dan kekesalanku padamu setidaknya aku akan merasa lebih tenang. Tapi mengapa? Mengapa kau meninggalkanku tanpa berkata apapun? Namamu masih tetap ada di hati ini. Aku tidak mau berada di dalam fase seperti ini, perlahan-lahan menyayat perasaanku. Air mata tidaklah dapat kubendung, hujan; ya. Seperti hujan, yang terus berjatuhan rintiknya.
“De, dia udah bahagia sekarang sama ceweknya. Udah, gak usah sebut-sebut nama dia lagi. Ceweknya sayang sama dia, biarlah. Lu gak mau kan disebut sebagai perebut kebahagiaan orang? Ada masanya de, dia bakal ngerasain apa yang lu rasain. Biar waktu yang bakal ngebuktiin” Ujar imel, seolah memberi saran untukku.
Aku tidak mau berada di dalam zona ini, aku mau ke luar. Mau bebas untuk tidak ingat akan kamu. Sudah tujuh bulan aku seperti ini, aku tiada mengerti apa maksudmu. Datang-pergi, lalu kembali -kemudian pergi lagi meninggalkanku. Seolah kau hanya ingin bermain-main di hatiku saja. Apa salahku sehingga kau mempermainkanku? Coba sebutkan satu kesalahanku padamu!
Untukmu yang kumaksud, aku rindu padamu. Aku tidak tahu, sudah berapa banyak cerita yang kutulis. Tapi, ketahuilah, semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kamu merasakannya juga? Aku harap kamu merindukanku walau hanya lima menit. Setidaknya kamu mengingat bagaimana aku tertawa lalu menangis.
Kau menggantungkan hubungan ini, entah kamu masih mengingatnya atau tidak, yang jelas ini sangat menyakitkan. Kamu tertawa sedang aku menangis, kamu berbahagia dengan ‘perempuan itu’ sedang aku menderita menahan perih luka di hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar