Aku mencarimu dibalik bayang-bayang yang tertawa dan kesepian yang menanti. Mungkin kapal raksasa berwarna biru, putih, kuning dan merah yang mewakilkan warna salah satu mini market Indonesia ini akan menjadi saksi antara mencari dan berlari. Mengapa aku harus merasa sendiri di kerumunan dan hatiku mencari kamu? Entah ini perasaan atau apa, aku merasa kau menjagaku dan memperhatikanku dari jauh.
“Alex, Alex!”
“Hush udah, biarin aja. Nanti dia kesini lagi.”
Aku melihat Alex pergi menjauhiku. Entah mengapa, tapi setiap aku tak melihat dia, aku merasa dia menjagaku. Kenapa kamu harus lari sih? Aku hanya ingin melihat wajahmu dan selesai. Rasa rindu pun akan terbayar. Aku terdiam, maafkan aku. Aku melihat sosok yang kukenal, ahh.. ada Om Kaka!
“Halo Om!”
“Hai. Sama siapa kamu?”
“Ini sama temen-temen. Btw om, aku udah putus.”
Semuanya kulampiaskan hingga airmataku menggenang seakan mau keluar dan tempat ini menjadi laut. Akan kulihat perahu raksasa akan pergi membawa rasa yang tertinggal. Cukup dengan fantasinya, ini realita. Om Kaka bilang mungkin ini yang terbaik. Aku berasa main petak umpet. Di event Kampung Maritim ini terdapat sebuah tempat dimana aku DIPAKSA oleh sahabatku untuk berani memasukinya. Namanya ‘Rumah Hantu’. Tapi tanpa kusadari aku melihat wajahnya dari jauh, tersenyum.
“Wah aku melihat sesosok lelaki di antara para wanita dan tertawa!”
Aku diam. Mungkin ini memang terakhir kalinya aku akan menemuinya, mencintainya dan merindukannya.. walau memang terdengar tak mungkin. Aku senang melihatnya tetap bisa tertawa riang tanpaku. Masih bisa bersosialisasi terhadap temannya. Tapi kenapa setiap aku berada di dekatnya, dia berlari? Bencikah dia pada ku?
Sepanjang perjalanan kecil ini, perempuan dan laki-laki bergandengan dan berangkulan. Seakan memang dunia ini milik mereka berdua, dan ya mereka bebas berekspresi. Aku iri, bukan. Tapi aku mengingat betapa seringnya aku tertawa tanpa luka bersamanya. Bagaimana teman-temannya berkata bahwa mereka iri. Aku seharusnya menyemangatimu dan menyaksikan permainanmu di dalam kapal tersebut. Tapi kenapa aku tak punya keberanian itu? Aku hanya ingin menatapmu dari jauh, mohon jangan berlari. Beberapa kali aku melihatnya tersenyum. Terkadang aku melewatinya dengan sadar, aku tak berani menatapnya. Semua itu membuatku sungguh hampa.
Masih adakah cinta di antara kita? Apakah cobaan untuk bertahan? Tak ada lagi kesempatan. Maksudku ah… aku benci perasaan ini. Aku rindu dimana aku tak sendiri. Aku rindu dia. Mohon jangan berlari.
“Entah mengapa, aku tidak ingin bertemu dengannya tetapi disisi lain hatiku mengarahkanku untuk berlari ke arahnya.”
Itu lah yang aku rasa. Memang sebelum aku melihatnya, aku melihat ayah dan ibunya. Aku benci, aku murka dan aku ingin meledak. Hanya saja, ada hal yang lebih penting. Melupakan dia sejenak lalu menggilalah karena ini adalah pesta pertama dimana aku tak lagi memiliki pasangan. Aku bebas berbicara bahkan berinteraksi dengan siapapun. Aku tak peduli. “Hiro, kamu dimana?”
Hiro adalah seorang kakak yang sekarang mulai dekat denganku. Mungkin aku tergila-gila kepadanya. Tapi kuyakinkan aku tak mungkin jatuh cinta secepet ini.
“Kita sampai di puncak acara, yaitu IPANG!”
Lagunya mendayu seakan mengalun untukku dan dia. Ah, kamu dimana? Aku sempat melihatnya duduk di dekat stand kelasnya, namun ketika aku mencoba mencarinya di balik para lelaki dengan rambuut gondrong dan kebetulan dia juga, dia hilang. Haruskah kau hindari aku? Entah Hiro telah menyelinap masuk hatiku atau belum, yang pasti ketika aku tak bersamanya aku merasa aku harap dia ada karena yang kufikirkan hanya mantan. Ah cukup. Aku seharusnya bersenang-senang walau memang mata ini tetap mencoba merobek gelapnya malam dan menemukanmu.
“Satu kesalahan yang pernah kulakukan. Tak juga berhenti terus
Menghantui. Ku kira ku mampu melupakanmu. Tapi hingga kini ku tak bisa.”
Mungkin aku sulit mengatakan ini, tapi aku bahagia karena kamu bisa tersenyum tanpaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar