Hujan,
Di bawah kanopi halte bus di pinggiran taman kota denggung yogyakarta..
Tak ada yang spesial sebenarnya,
Jogja masih sama seperti beberapa bulan yang lalu, lampu warni-warni di pinggiran jalan, hujan deras disore hari, hanya saja tak ada kamu (lagi)…
Di bawah kanopi halte bus di pinggiran taman kota denggung yogyakarta..
Tak ada yang spesial sebenarnya,
Jogja masih sama seperti beberapa bulan yang lalu, lampu warni-warni di pinggiran jalan, hujan deras disore hari, hanya saja tak ada kamu (lagi)…
Terlalu singkat memang ketika kamu dan aku menjalani hari-hari yang kita sebut ‘pacaran’… Tapi bukankah waktu yang singkat itu tetap dinamakan pernah bersama? Ya, aku dan kamu-kita pernah bersama untuk waktu yang kamu bilang itu terlalu singkat. Kata-kata terakhirmu sebelum aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya masih sangat jelas kuingat, seperti baru kemarin kamu mengatakannya padaku, ah ya.. Walaupun ini sudah lewat satu minggu. “Dek… Yang mas sayang itu kamu”.
Aku menengadahkan tangan di bawah air hujan, di pinggir jalan taman kota denggung jogja. Dingin, sejuk, ah aku jadi mengingatmu lagi mas…
Hujan selalu membawaku mengingat sesuatu, sayangnya kali ini sesuatu itu berwujud ‘kamu’. Laki-laki tinggi berwajah chinese, tinggi yang kamu pernah bilang padaku itu 185 cm, penyuka klub bola barcelona, tim inti di klub futsal kampus jurusanmu, tak menyukai tempat ramai, tak menyukai hujan, penyuka anjing dan kucing, penyuka kebun binatang, laki-laki super perhatian yang pernah menyayangiku. Setidaknya itu yang kupercaya, sebelum semuanya…
Hujan selalu membawaku mengingat sesuatu, sayangnya kali ini sesuatu itu berwujud ‘kamu’. Laki-laki tinggi berwajah chinese, tinggi yang kamu pernah bilang padaku itu 185 cm, penyuka klub bola barcelona, tim inti di klub futsal kampus jurusanmu, tak menyukai tempat ramai, tak menyukai hujan, penyuka anjing dan kucing, penyuka kebun binatang, laki-laki super perhatian yang pernah menyayangiku. Setidaknya itu yang kupercaya, sebelum semuanya…
“Dek…”, suaranya sedikit berbeda, seperti menahan sesuatu
Aku tak menjawab, hanya menatapnya dari samping. Matanya tak berubah, tak pernah berubah. Bahkan sejak 13 tahun yang lalu, mata sipit dengan bulu mata panjang lentik, cantik. Itu yang selalu kukatakan padanya.
“Mas mau jelasin tentang-”
“Mas..”, aku memotong kalimatnya, sejujurnya aku hanya takut mendengar penjelasannya yang mungkin akan menyakitiku lebih dari kenyataan yang aku tahu sekarang
Aku tak menjawab, hanya menatapnya dari samping. Matanya tak berubah, tak pernah berubah. Bahkan sejak 13 tahun yang lalu, mata sipit dengan bulu mata panjang lentik, cantik. Itu yang selalu kukatakan padanya.
“Mas mau jelasin tentang-”
“Mas..”, aku memotong kalimatnya, sejujurnya aku hanya takut mendengar penjelasannya yang mungkin akan menyakitiku lebih dari kenyataan yang aku tahu sekarang
“Boleh aku yang bicara duluan?”, aku masih menatapnya, dia mengangguk
“Perempuan ini siapa?”, aku menunjukan foto seseorang di layar ponselku
Dia diam, tak berani menatapku. Kuulang skali lagi “Perempuan ini siapa mas?”
Masih sama, diam. Menatap lurus ke depan. Wajahnya sangat menunjukan perasaannya hari itu, frustasi.
Sekali lagi “Perempuan ini siapa? Pacarmu mas?”
Dia mengangguk.
Cukup. Aku terhenyak, beberapa detik perasaanku seperti merasakan ada getaran. Tanganku gemetar memegang ponselku sendiri. Aku mulai berkaca-kaca, dan akhirnya pecahlah, aku menangis.
Dia diam, tak berani menatapku. Kuulang skali lagi “Perempuan ini siapa mas?”
Masih sama, diam. Menatap lurus ke depan. Wajahnya sangat menunjukan perasaannya hari itu, frustasi.
Sekali lagi “Perempuan ini siapa? Pacarmu mas?”
Dia mengangguk.
Cukup. Aku terhenyak, beberapa detik perasaanku seperti merasakan ada getaran. Tanganku gemetar memegang ponselku sendiri. Aku mulai berkaca-kaca, dan akhirnya pecahlah, aku menangis.
“Mas bisa jelasin, dia-“,
“Sebentar mas, aku duluan yang mau ngomong sesuatu”
Aku memperkuat diri, batinku sebenarnya. Mengelap sisa air mata yang masih ada di pipi kanan-kiri
Aku memperkuat diri, batinku sebenarnya. Mengelap sisa air mata yang masih ada di pipi kanan-kiri
“Apapun alasan mas, itu berarti aku orang ketiga di antara kalian? Dia pacarmu dan aku selingkuhanmu? Iya mas? Lalu selama ini semuanya bohong? Mas bawa aku ke kampus, ketemu teman-teman mas. Terus mas bawa aku ke salah satu turnamen futsal mas. Bahkan mas bawa aku ketemu bunda, ke rumah mas. Itu semua buat apa?”, tangisku kembali…
“Bukan begitu dek, mas cuma-”
“Mas, udah. Jangan diterusin lagi. Aku nggak sanggup”
“Dek… Yang mas sayang itu kamu”
Aku menenangkan diri, kalimat terakhirnya benar-benar hampir menjatuhkanku (lagi)
Aku sudah cukup memberinya kesempatan bertemu, setidaknya itu yang kupikirkan. Emosiku masih sangat labil, dan aku masih tidak menerima penjelasan apapun. Hanya saja, selama ini aku hanya selingkuhan mas. Itu yang ada di pikiranku, bahkan sampai hari ini.
Aku sudah cukup memberinya kesempatan bertemu, setidaknya itu yang kupikirkan. Emosiku masih sangat labil, dan aku masih tidak menerima penjelasan apapun. Hanya saja, selama ini aku hanya selingkuhan mas. Itu yang ada di pikiranku, bahkan sampai hari ini.
Kalau saja aku nggak lagi ketemu mas, kalau saja cinta monyet yang dulu pernah kurasakan kuabaikan begitu saja, kalau saja aku tak menyapa mas lagi setelah 13 tahun yang lalu. Bisakah aku tak merasakan sakit seperti hari ini?
Sudah satu minggu. Tak terasa…
Menyebalkan memang, hujan selalu mengembalikan memoriku. Sayangnya memori itu berwujud ‘kamu’. Toyota vios tahun 2013, warna hitam. Wangi, bersih, rapi. Nggak seperti mobil anak laki-laki lainnya, penuh handuk kotor, bau, jersey bekas disana-sini, sepatu futsal disana-sini. Benar-benar jauh. Isinya benar-benar rapi, wangi, bersih. Pengharum stella pink blossom; aku tahu kamu nggak suka wangi buahkan? Bikin mabuk ya dek? – itu yang dia bilang, dulu.
Di lampu merah, kamu membuka kaca mobil hanya demi menanyakan nama seekor anjing pitbul yang sedang duduk di dashbor motor, 120 detik; kamu gunakan untuk mengobrol kesana-sini dengan si mas dan mbak yang berboncengan membawa si anjing pitbul, kamu bilang namanya ‘roki’.
Menyebalkan memang, hujan selalu mengembalikan memoriku. Sayangnya memori itu berwujud ‘kamu’. Toyota vios tahun 2013, warna hitam. Wangi, bersih, rapi. Nggak seperti mobil anak laki-laki lainnya, penuh handuk kotor, bau, jersey bekas disana-sini, sepatu futsal disana-sini. Benar-benar jauh. Isinya benar-benar rapi, wangi, bersih. Pengharum stella pink blossom; aku tahu kamu nggak suka wangi buahkan? Bikin mabuk ya dek? – itu yang dia bilang, dulu.
Di lampu merah, kamu membuka kaca mobil hanya demi menanyakan nama seekor anjing pitbul yang sedang duduk di dashbor motor, 120 detik; kamu gunakan untuk mengobrol kesana-sini dengan si mas dan mbak yang berboncengan membawa si anjing pitbul, kamu bilang namanya ‘roki’.
Ada lagi… Waktu itu hujan deras. Ingatkah? Ada mbak-mbak berjilbab dan ibunya di pinggir jalan, motornya dituntun, tanpa mantel. Kamu keluar tanpa payung tanpa mantel mendatangi mbak-mbak dan ibunya, aku hanya menatapmu dari spion, bingung. Satu menit kemudian kamu mengetuk kaca mobil, aku membukanya sedikit; takut basah. “Tunggu sebentar ya dek, mas beli bensin disitu”, dia menunjuk warung bensin eceran kira-kira 100 meter dari tempat mobil ini berhenti. “Jalan kaki?”, aku bingung melihatnya sudah basah kuyub
“Iya, kalo naik mobil susah puter baliknya, sebentar ya. Jangan ngambek”, dia senyum terus lari-lari ke warung bensin. 30 menit kemudian dia kembali ke mobil, badannya sudah basah kuyup, bibirnya biru kedinginan. Disusul mbak-mbak dan ibunya tadi, mengetuk kaca mobil “Mas, makasih banyak ya”, terus pergi. Aku menatap laki-laki di sampingku, dia senyum. “Maaf lama ya dek, kasihan sama ibu-ibunya kalau masih harus jalan nyari bensin”. Aku senyum, heran; masih ada laki-laki sebaik ini?
“Iya, kalo naik mobil susah puter baliknya, sebentar ya. Jangan ngambek”, dia senyum terus lari-lari ke warung bensin. 30 menit kemudian dia kembali ke mobil, badannya sudah basah kuyup, bibirnya biru kedinginan. Disusul mbak-mbak dan ibunya tadi, mengetuk kaca mobil “Mas, makasih banyak ya”, terus pergi. Aku menatap laki-laki di sampingku, dia senyum. “Maaf lama ya dek, kasihan sama ibu-ibunya kalau masih harus jalan nyari bensin”. Aku senyum, heran; masih ada laki-laki sebaik ini?
Tempias air hujan mulai membuatku menggigil. Malam, hujan deras, di pinggir jalan, hanya berdua dengan rosa, teman kuliahku yang sering kuceritakan padamu…
Seandainya kamu tahu aku dengan kondisi seperti ini, aku yakin kamu sudah akan menyusulku. Mengingat wajahmu yang akan berubah jadi frustasi karena mengkhawatirkanku; sayangnya wajah itu bukan milikku lagi; dari awal memang seharusnya itu bukan milikku.
Seandainya kamu tahu aku dengan kondisi seperti ini, aku yakin kamu sudah akan menyusulku. Mengingat wajahmu yang akan berubah jadi frustasi karena mengkhawatirkanku; sayangnya wajah itu bukan milikku lagi; dari awal memang seharusnya itu bukan milikku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar