Ujian baru saja berakhir tepat pukul 09.30 WIB. Sekolah yang mengadakan Ujian Kenaikan Kelas dengan system online memang sangat membebani seribu lebih siswa. Karena menggunakan server, maka jaringan koneksi yang disediakan oleh sekolah sebentar-sebentar mengalami gangguan sehingga meresahkan siswa. Bergitu pula dengan aku. Saking gugupnya tidak dapat berhasil mengerjakan ujian, sejak kemarin perutku tidak kemasukan nasi sekalipun. Berbagai fikiran masuk ke dalam otakku hingga kepalaku terasa pusing dan mual. Tenang, Adel, hari ini telah selesai. Kamu telah menyelesaikan dengan cukup baik.
Tanganku bergerak mengambil handphone dari dalam saku. Ternyata ada satu pesan belum terbaca. Sudut bibirku tertarik tanpa aku sadari setelah membaca sebuah nama yang tertera pada layar handphone.
Dari: Bagus
Adel, kamu sibuk, nggak? Makan di kantin, yuk!
26-Mei-2015 09:35
Adel, kamu sibuk, nggak? Makan di kantin, yuk!
26-Mei-2015 09:35
Bagus Wicaksono. Entah mengapa setiap kali mengingat namanya aku merasakan kedamaian yang menyeruak di dalam hati. Mengalir laksana sungai yang bening. Bukan, dia bukanlah kekasih hati. namun perlahan, dia secara diam-diam telah menarik perhatianku. Well, sebenarnya, dia telah mencurahkan isi hatinya kepadaku beberapa minggu yang lalu. Tapi aku belum memberikan kepastian karena aku belum mengenalnya luar dalam. Selain itu aku juga harus fokus untuk mengejar nilai dan kelulusan. Jadi, untuk menunggu sampai lulus, aku membuat komitmen kepadanya lebih baik saling melihat sisi masing-masing terlebih dahulu saja.
Satu sinar menerobos ke dalam kepalaku dan tiba-tiba tiga kata terlintas di benakku –mungkinkah dia merindukanku?– Sudah seminggu aku tidak mengobrol dengannya karena kesibukkan yang terus menemani kami. Setelah kupikir-pikir, tidak ada salahnya aku menerima tawarannya. Cacing-cacing di perutku juga telah menari-nari meminta jatah makan. Namun begitu teringat akan tugas akhir yang belum kuselesaikan dan harus dikumpulkan hari ini membuatku mengurungkan kaki untuk melangkah keluar kelas. Tanpa menunggu lama aku membalas pesannya dan mengatakan bahwa aku ada sedikit urusan lalu memintanya untuk menunggu sebentar. Dia pun memahami dan berkata akan menunggu sampai tugasku selesai.
Setengah jam berlalu bersamaan dengan kata terakhir yang kuketik dalam tugas akhir dalam laptopku. setelah meneliti kembali pekerjaanku, segera kumatikan laptop dan memasukkan ke dalam tas ranselku. Mataku terasa panas karena menatap layar laptop secara berlebihan. Kulangkahkan kaki hendak menuju kantin namun pandanganku menggelap dan hampir saja aku terjatuh pingsan. Perutku mendadak mual. Segera kusadarkan diri dan cepat-cepat berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan seluruh isi perut. Peluhku berjatuhan dan aku yakin wajahku saat ini sangat mengerikan. Handphoneku kembali bergetar dan kudapati pesan dari Bagus, dia bertanya apakah aku bisa menemuinya sekarang. Jemariku bergetar mengetik pesan.
Untuk: Bagus
Sebentar lagi, Gus
kamu tunggu dimana? Biar aku nanti langsung kesana.
26-Mei-2015 10:11
Sebentar lagi, Gus
kamu tunggu dimana? Biar aku nanti langsung kesana.26-Mei-2015 10:11
Secepat mungkin balasan pesan datang kepadaku.
Dari: Bagus
Di kantin, stand nomor 3 dari belakang. Selesaikan dulu saja, Adel.
26-Mei-2015 10:12
Di kantin, stand nomor 3 dari belakang. Selesaikan dulu saja, Adel.
26-Mei-2015 10:12
Aku ingin segera pulang dan beristirahat di rumah. Kepalaku berat seperti sedang memutar dunia. Namun Bagus sedang menungguku. Dia telah mengorbankan waktu untuk hanya sekedar mengobrol denganku. Tidak, aku tidak bisa membatalkan begitu saja. kupejamkan mata sejenak, berkata dalam hati bahwa aku bisa melawan rasa sakit yang datang tiba-tiba ini. Hanya sakit biasa, tidak lebih.
Selanjutnya, kupaksakan diri untuk berdiri dan berjalan pelan menuju kantin. Peluh tak berhenti untuk jatuh di keningku. Butuh beberapa menit untuk sampai di kantin. Heum.
“1… 2… 3…” akhirnya kudapati stand nomor 3. Tetapi aku tak menemukannya, ekor mataku hanya melihat beberapa siswa lain yang berlalu lalang di sampingku. Kemana dia?
“1… 2… 3…” akhirnya kudapati stand nomor 3. Tetapi aku tak menemukannya, ekor mataku hanya melihat beberapa siswa lain yang berlalu lalang di sampingku. Kemana dia?
Kududuki kursi kosong tepat di depan stand nomor 3. Mencoba melihat di sekeliling. Mungkin dia sedang ke kamar kecil. Kuambil handphone dan menghubunginya. nada sambung mengalun sebentar lalu terdengar suara berat dari seberang.
“Halo,”
“Aku sudah di kantin, kamu dimana?” sesekali aku mengangkat kepala untuk mencarinya. Namun tetap saja tidak kutemukan.
“Aku sudah pulang,”
Aku menjauhkan telepon sebentar dan menatapnya dengan alis yang saling bertaut. Yang benar saja?
“Yah, gimana, sih?”
“Maaf, ya, Adel. Hampir satu jam aku menunggumu,” dia mendesah pelan lalu melanjutkan perkataannya,. “aku kira kamu benar-benar sibuk.”
Aku terdiam beberapa saat. Tubuhku melemas dan lidahku terasa kelu di dalam mulut. Jantungku berdegup tak karuan. Kupejamkan mata untuk menahan gejolak yang berkumpul menjadi satu. Lalu membuang nafas besar sehingga terdengar di dalam telepon.
“Ya sudah.” Tanpa menunggu jawaban darinya aku memutuskan pembicaraan dan menutup telepon.
Amarahku naik. Apa maksudnya mempermainkanku seperti ini? Aku telah berusaha untuk bisa menemuinya meski aku tahu aku sedang sakit, namun ternyata kedatanganku hanyalah untuk mengetahuinya meninggalkanku. Kutatap layar handphone yang menunjukkan pukul 10:22. Selang waktu 10 menit dari sms terakhirnya yang menyuruhku untuk menyelesaikan tugasku. Mataku kembali memanas. Hanya butuh sedikit waktu untuk membuat semuanya batal. Ya, sedikit waktu saja…
“Halo,”
“Aku sudah di kantin, kamu dimana?” sesekali aku mengangkat kepala untuk mencarinya. Namun tetap saja tidak kutemukan.
“Aku sudah pulang,”
Aku menjauhkan telepon sebentar dan menatapnya dengan alis yang saling bertaut. Yang benar saja?
“Yah, gimana, sih?”
“Maaf, ya, Adel. Hampir satu jam aku menunggumu,” dia mendesah pelan lalu melanjutkan perkataannya,. “aku kira kamu benar-benar sibuk.”
Aku terdiam beberapa saat. Tubuhku melemas dan lidahku terasa kelu di dalam mulut. Jantungku berdegup tak karuan. Kupejamkan mata untuk menahan gejolak yang berkumpul menjadi satu. Lalu membuang nafas besar sehingga terdengar di dalam telepon.
“Ya sudah.” Tanpa menunggu jawaban darinya aku memutuskan pembicaraan dan menutup telepon.
Amarahku naik. Apa maksudnya mempermainkanku seperti ini? Aku telah berusaha untuk bisa menemuinya meski aku tahu aku sedang sakit, namun ternyata kedatanganku hanyalah untuk mengetahuinya meninggalkanku. Kutatap layar handphone yang menunjukkan pukul 10:22. Selang waktu 10 menit dari sms terakhirnya yang menyuruhku untuk menyelesaikan tugasku. Mataku kembali memanas. Hanya butuh sedikit waktu untuk membuat semuanya batal. Ya, sedikit waktu saja…
Aku masih termenung di tempat duduk. Memikirkan apa yang baru saja terjadi. Apa yang dia lakukan? Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Mengapa begitu cepat mengambil keputusan untuk meninggalkanku? Mengapa begitu tega meninggalkanku? Sungguh, beribu pertanyaan memaksa masuk ke dalam otakku tak menyurutkan amarahku. Kuraih tas ranselku dan bergegas menuju gerbang sekolah.
Aku berjalan pelan melewati koridor kantin. Beberapa teman yang kutemui sedang asyik mengobrol bersama dan dengan riuhnya menyapaku, aku hanya membalasnya dengan sedikit senyum dan melambaikan tangan. Terik matahari begitu menyorot tubuh sehingga aku harus menyipitkan mata dan menundukkan kepala. Menatap sepasang kaki berlapis sepatu yang bergantian menapak jalanan. Sakitku mendadak bersedekap dan bersembunyi di dalam ragaku. Yang terasa hanyalah kehampaan yang entah dari kapan mulai menyelimuti selaput otakku. Aku merasa seperti sedang berjalan memasuki ruang kosong dan serba putih. Jantungku masih tetap berdenyut tak karuan.
Akal sehatku mulai bertentangan dengan hati. dalam hati aku merasa begitu berat melangkahkan kaki untuk pulang. Aku meragukan jika ini benar terjadi: Bagaimana jika ini semua hanya sebuah kejutan kecil yang dibuatnya untukku? Atau mungkin saja ini hanyalah sebuah ilusi untuk membuatku marah kepadanya, seolah-olah untuk membuatku terkesan dengan trik yang dibuatnya agar aku menjadi yakin kepadanya? Ah, yang benar saja, Adel! Jelas-jelas dia telah pulang dan meninggalkanmu. Bagaimana bisa dia bermain-mana padahal dia adalah tipe orang yang serius. Berhentilah berkhayal.
Kurasakan seperti ada yang berjalan mengikutiku. Langkah kakinya menyeret dedaunan pohon yang gugur dan berserakan di tanah. Aku melambatkan lajuku. Orang yang berada di belakangku ikut melambatkan langkah dan kontan membuatku terhenyak. Sebuah bisikan menghampiriku dan berkata bahwa dia adalah orang yang sejak tadi kuharapkan. Aku menahan nafas, bimbang antara menoleh ke belakang atau tetap berjalan dan memandang lurus ke depan. Sungguh jika ini benar-benar permainan yang sengaja dibuatnya. Aku akan malu untuk mengakui bahwa aku terjebak dan kalah telak di depannya. Setelah menghela nafas panjang, di detik berikutnya menolehkan kepala ke belakang.
“Maaf, resleting tasmu masih terbuka,”
Blarrr! Gemuruh datang dan mencambuk relung hatiku. Mukaku merah padam begitu kudapati seorang siswa jangkung tampak tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya. Kupalingkan wajahku menatap tasku yang memang masih terbuka dan menggerakkan tanganku untuk menggeser risleting tas agar tertutup. Lalu mendongak dan memaksakan sesimpul senyum kepadanya. “Terimakasih.”
Kubalikkan kembali badanku dan kembali menundukkan kepala. Aku sadar aku telah berlebihan. Berharap pada yang tidak sesuai dengan keadaan. Berharap agar ini tidak benar-benar terjadi. Satu hal yang harus kuterima saat ini adalah dia telah lama pergi meninggalkanku. Tidak ada istilah ilusi atau trik kejutan yang dibuat-buat. Hatiku melengos. Kupercepat langkah kaki meninggalkan gerbang sekolah. Aku pulang dengan menggenggam setumpuk kekecewaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar