Sabtu, 26 November 2016

past of moment


“Huacchh..” terpaksa aku harus menguap dan secepat mungkin aku menutupnya. jam menunjukkan pukul 04.00 pm. kupandang suasana di luar yang dapat ditembus oleh kaca tepat di samping tempat dudukku.
Kabut, baru saja hujan mengguyur bumi, sesekali aku mencoba untuk mengembalikan konsentrasiku mendengarkan ceramah yang mendominasi gaya mengajarnya. kutarik leherku 30 derajat, mencoba mencari sumber kebisingan yang mengeruhkan telingaku, namun pandanganku terhenti saat sepasang bola mata itu menatapku sekilas. aku pun segera mengalihkan pandanganku, seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku terdiam sesaat, mencoba kembali berkonsentrasi tapi pikiranku melayang terbawa tatapan mata yang begitu singkat dan membuat hati menahan kecewa.
Saat aku pernah merasa memilikinya, pernah menganggap dia ada dalam hidupku,
“Babz.” sapanya setiap sms yang aku baca, aku pun tak sanggup untuk menyembunyikan rasa ini, memaksaku menjalani hubungan tanpa status, hari demi hari berlalu dengan indah. disini aku mulai mengenali bahkan mengagumi sosok seorang dia, “rela berkorban” mungkin poin itulah yang kadang membuatku terpenjara dalam keyakinan yang salah. kadang aku merasa seakan perasaan telah mempermainkanku, namun aku tak mampu untuk mencari kepastian.
Dingin, dan semakin dingin, kutarik selimut, aku mencoba memejamkan mata, namun bayangan itu tetap mengusik, hingga memaksaku meraih ponsel. ingin ku mengirim pesan singkat untuknya, namun rasanya terlalu malam, aku enggan mengganggu mimpi indahnya, yang mungkin aku ada di dalamnya.
Hubungan tanpa kepastian yang aku inginkan darinya ternyata menyiksaku dalam diam, hingga waktu membawa ketidakpastian pada titik klimaks. dia diam, dan semakin diam lalu menjauh, aku pun mencoba melakukannya. tak pernah mengerti bahkan aku sengaja tak ingin mengerti apa yang buat dia berubah, menjauh dan begitu tak acuh hingga akhirnya kenyataan pahit pun harus aku telan.
“Hahaha…” sebuah tawa yang akhirnya mengejutkanku dan memaksa membawaku kembali pada realita, aku mencoba tersenyum menetralisir suasana, kupandang teman di sekelilingku tak terkecuali guru yang di depanku, begitu liar..! akankah mereka menertawakanku? atau… ah aku pun tak ingin memperkeruh suasana.
Aku masih tertidur, tiba-tiba seberkas cahaya itu mengusik melewati jendela tepat di samping tempat tidurku. “ya tuhan, udah jam segini” ucapku setelah melirik jam beker yang menunjukkan pukul 05.15 am. segera ku menyiapkan segala sesuatu, kebetulan hari ini hari terakhir proses belajar mengajar karena lusa ulangan kenaikan kelas pun dimulai.
Osis bertanggung jawab penuh untuk menyiapkan ruangan UKK, termasuk aku dan dia sosok orang yang tak mampu membuatku setia pada satu hati. “huft..” keluhku saat aku mencoba mencuri pandangannya yang tak pernah tertuju padaku, bahkan mungkin ia sengaja memalingkan wajahnya, aku hanya mampu berselisih dengan perasaanku.
Saat kau mulai diam, inginku memintamu kembali tapi ah, pikirku setelah ku berhasil menatap sekilas wajahmu yang begitu dingin. “maafkan aku yang mengecewakanmu say” inginku mengucapkan kalimat ini tapi ku tak mampu.
“puri, bengong aja sih.. nyapu sana” suara temanku bercanda tapi mengagetkan dan membuat pikiranku kosong. “hihi.. iya bentar” jawabku dengan senyum yang sedikit kupaksakan.
Setelah semua ruangan sudah tertata rapi, seluruh anggota OSIS berkumpul di aula sekolah. aku pun melangkahkan kaki untuk menuju kesana walaupun aku harus datang dengan urutan terakhir. sengaja kutundukkan kepala agar pandanganku tetap menuju lantai setelah aku mendengar ia berbicara dengan bijaksananya. kebetulan saja orang yang kukagumi itu menyandang predikat sebagai ketua OSIS.
Rasanya tubuh ini tak semangat lagi, lemas bahkan wajahku terlihat sayu. siapa yang harus aku salahkan, atau aku harus menghakimi diriku sendiri? “huhhh…” keluhku menghela napas, kupaksakan kaki ini untuk berjalan sebelum sopir pribadiku datang, suara sepeda di belakangku membuat hati ini terusik, ia melaju begitu kencang pandanganya lurus tanpa memperdulikan aku di sampingnya.
“kau telah menyakitiku, tega! kenapa sih kamu gak bisa mencintaiku sepenuhnya?” katamu membatin, aku paham itu.
Malam ini sengaja kukosongkan otak ini, membiarkan semua beban terbang bersama semilir angin, kupandang langit di atas sana yang mampu merengkuh jutaan bintang dan satu bulan tanpa perselisihan, hal itu membuatku kembali ke masa lalu yang begitu indah, sulit untuk kuhapus bahkan aku tak tahu dengan apa aku harus menghapusnya.
“babz, nanti siang aku mau ke puncak sama teman-teman” ucapku meminta izin. “iya, tapi sama aku ya babz” tawarnya. Aku pun tak bisa menolak, dia pun menjeputku di sekolah setelah papa mengantarku dan meninggalkanku pulang. Seperjalanan menuju puncak aku membisu, ia pun enggan melontarkan kata-kata. Tiba-tiba pikiranku mulai keruh, aku mengingat orang yang selama ini jauh kutinggalkan meski status masih mengikatku.
“rasanya aku orang paling jahat sedunia, udah mempermainkan dua hati yang tulus mencintaiku” ucapku dalam hati. secepat mungkin aku membuang jauh pikiranku dan kenyataanya “aku memang mencintai kalian” tentu aku membatin. Lamunanku terhenti saat kata itu mulai memecahkan kesunyian “yess, akhirnya sampai juga” ucapnya, lega.
“friend, semua sepeda parkir sini ya, kita ke atasnya jalan kaki” kataku, aku pun tak mau kalah bijak dengan dia. Semua kaki pun tergerak untuk menyusuri jalan setapak demi mendapatkan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk, sayang tempat ini belum cukup tinggi untuk menyaksikan sunrise
Aku begitu menikmati pemandangan di sekelilingku, walaupun kaki ini mulai payah dan rasanya aku haus, aku tak menyangka disaat yang begitu tepat ia menyodorkan aqua dengan senyumnya yang manis. “makasih ya babz” ucapku sambil menerima aqua dari tangannya.
“duduk disana yuk” pintanya sembari mengandeng tanganku, aku pun belum menjawab, namun rasanya terlalu sayang jika aku tak mengiyakan. Terlalu banyak lelucon yang kami buat, dan sengaja kami lakukan untuk menghilangkan kejenuhan dari segala tugas yang memberatkan. Aku terbuai dengan keasyikan bahkan tidak ada ruang kosong untuk mengingat dia yang jauh disana. Rasanya hatiku telah penuh oleh cinta yang datang setelah cinta itu ada. “rumit” mungkin itu yang pantas diucapkan. Namun aku menyukai semua ini.
“babz, pulang yuk, panas nih” ajakku. Kita berjalan beriringan, sentuhan itu membuat kakiku berhenti melangkah, saat ia menyentuh halus wajahku. Dia tersenyum lalu mengandeng tanganku dan melanjutkan perjalanan. Aku bungkam seribu bahasa, senang, haru dan perasaan bersalah berkecamuk dalam hatiku.
Harus kuakui aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaan ku. “babz, cukup jelas kan kalau aku sayang kamu?” tanyanya memojokkan dan membuatku tak berkutik.
Dadaku terasa sesak saat ku mencoba menahan air mata yang akhirnya membasahi pipi. kutarik napas kuat-kuat, lalu kuhembuskan. “maafkan aku yang menodai cinta kalian” sesalku dalam hati.
“puri, masuk nak, udah malam, cepetan istirahat” teriak mama lembut, dan memaksaku untuk mengusap air mata yang terurai. Tatapan mataku begitu kosong memandang langit-langit kamar, mungkin hanya ini yang mampu kulakukan di tengah kegelisahanku hingga rasa kantuk menyerang dan mengantarkanku ke alam mimpi.
The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar