Sabtu, 26 November 2016

keraguan

Aku sudah mendapatkan restu dari orangtua Anita. Aku sudah siap menjadi suami. Dulu aku juga sempat ingin mempersunting Diana. Namun aku memutuskan untuk fokus sama Anita. Dan fokus ke Anita telah membuatku cukup bahagia. Aku selalu mengajaknya jalan-jalan, menjemputnya kuliah dan mengantarkan kemana dia mau. Kini aku menemui orangtuanya dan mendapat restu dari mereka, muncul masalah baru.
Antara Anita dan Diana. Sayang sekali bila aku harus menyia-nyiakan wanita yang satu ini. Lumayan sekali, secara dia orang yang cantik, menawan dan aku suka semenjak dahulu. Namun aku sudah terlanjur memilih Anita dan menemui orangtuanya. Artinya aku tidak boleh seenaknya mundur begitu saja. Aku sebenarnya tidak ragu, hanya saja apa iya, aku tidak akan tergoda oleh Diana ke depannya? Kemudian jika aku mengundurkan diri dari Anita, apa iya hidupku bakal tenang? Apa iya, akan semudah dan sesederhana itu? Sulit sekali rasanya mengambil keputusan. Kok kebetulan kedua wanita tersebut sudah lama aku kenal dan menancap hatiku ya?. Rasanya menyebalkan. Kenapa harus dua?
Aku sekarang galau dan gundah. Kenapa sih, aku membuang-buang waktu hanya untuk sebuah keraguan? Kalau kamu ragu ya berarti kamu belum bisa menerima resiko. Padahal kan hidup tentu memiliki resiko, yang kamu perlu ambil dalam mengambil keputusan adalah pemilihan resiko yang terkecil. Bertindaklah cerdas.
“Jika kamu tidak jadi ambil Diana, ya itu resiko. Jika kamu niatkan fokus ke Anita, ambillah resiko, terima kenyataan bahwa kamu bakal terkena sangsi dan cibir di luaran. Belum juga resiko ditolak. Pokoknya hidup itu ya serba ada resikonya. Pilihlah resiko yang terkecil. Mau enaknya saja? Ya tidak bisa seperti itulah. Nanti kalau semisal kamu telah menikah juga bakal ada resikonya. Semua keputusan ada di tanganmu. Kalau Anita ya Anita. Kalau Diana ya Diana. Kamu tidak bisa ambil enaknya saja”. Begitu hatiku saling begelut dengan pro dan kontra.
Ini sih aku sudah di pertengahan jalan ya. Ya aneh saja, dulu ngotot, ngoyo, pengennya menikah dengan segera. Setelah datang kesempatan malah ragu untuk melangkah. Dulu aku tidak ragu melangkah, dengan tegas aku ingin memilih Anita. Namun kenyataannya apa? Nihil, zonk.
“Mungkin beri target dulu lah. Kamu pengennya yang seperti apa? Yang seperti Anita, atau Diana?”. Begitu aku meronta. Hmm.. Setelah aku pikir-pikir, mungkin ada baiknya aku beri target tahun ini menikahi Anita, sedangkan tahun depan poligami. Ahhh.. lagi-lagi aku dilanda keraguan. Ya Tuhan, berilah aku jalan kemudahan.
Aku sebenarnya sudah memiliki trik tersendiri, namun jika harus berakhir seperti ini ya sudahlah, umurku terbuang banyak gara-gara keraguan. Mungkin akunya yang terlalu mengharapkan kesempurnaan meski secara tidak sadar. Aku terlalu perfeksionis. Sudahlah. Apapun itu jalani saja. A ya A. B ya B. Aku tidak ingin ragu, aku tidak ingin takut, aku ingin berani, aku tidak ingin kesempurnaan. Semua bukan jaminan, maka dari itu aku harus fokus dengan yang kira-kira bagus untuk masa depanku. Jika aku tidak segera keluar dari zona nyaman tentulah aku selamanya akan seperti ini, tidak ada perubahan nasib. Sudahlah. Anita memang cantik, meski Diana juga lebih menawan. Jangan takut untuk melangkah, niatkan untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.
4 tahun kemudian…
Bukan main kecewaku. Bukan main kemarahanku. Bukan main kegusaranku selepas mengetahui bahwa istriku ternyata dulu sudah berkali-kali melakukan hubungan di luar nikah. Tapi mau apa lagi? Dulu aku memang kebingungan dalam memilih calon istri, namun kenapa sekarang harus mendapat kemalangan yang bertubi-tubi? Aku mendapat kabar dari mantan pacar istriku dulu bahwa dia telah melakukan hubungan s*ks di luar nikah berkali-kali. Dan istriku mengiyakan kabar berita tersebut. Kabar berita yang sebetulnya aku ingin dari dirinya menyanggah. Tapi dia mengakui, bahwa berkali-kali melakukan perbuatan laknat tersebut. Belum lagi kata dokter yang menyatakan bahwa dia positif mandul. Aduh aduh aduh. Sebetulnya masih mending kalau dia tidak perawan sih. Lah ini apa? Aku dari dulu mengharap memiliki momongan. Ternyata apa yang kuimpikan sangat jauh dari harapan. Istri yang baik, dan segera memiliki momongan. Itu keinginanku. Aku depresi menghadapi perkara ini. Aku tidak kuasa. Ah.. aku kesal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar