Aku hanya bisa terdiam, melihat kelakuannya yang tidak seperti dulu, hal yang paling tidak aku suka adalah menjadi dan memiliki mantan. Kisah indah dalam sebuah hubungan, ditutup dengan kata “maaf aku harus pergi”. Dan dia yang dulu selalu mewarnai hariku, kini telah pergi dari hidupku untuk mencari bidadari pengganti.
Kututup buku putih itu, buku yang selalu menemaniku setiap saat meski aku telah berada dalam kesendirian, “Ke kamar mandi yukk!” ajak Wulan, hal yang aku suka saat mengantar Wulan ke kamar mandi adalah aku bisa melihat dia walau itu hanya sekilas. “Aku tunggu di luar ya?” ucapku, ternyata benar dugaanku dia berada di depan kelas bersama teman-temannya. Ku buka kembali buku putih itu dan mulai menuliskan perasaanku.
19 September 2014
Hari ini aku melihat senyumnya, walaupun dia tidak bersamaku lagi tapi aku tetap memikirkan dia dan meski aku tidak lagi ada dalam fikirannya sampai kapanpun aku tidak pernah melewatkan dia dari pikiranku.
Hari ini aku melihat senyumnya, walaupun dia tidak bersamaku lagi tapi aku tetap memikirkan dia dan meski aku tidak lagi ada dalam fikirannya sampai kapanpun aku tidak pernah melewatkan dia dari pikiranku.
“Stev, aku males balik ke kelas” ucap Wulan, “Tapi ini kan udah jamnya masuk, ntar kalau ada gurunya gimana?”, “Kan bisa tahu dari lorong situ kalau gurunya mau ke kelas” aku terdiam melihat senyum mengharap dari wajah Wulan. Dari belakang aku melihat Mei melangkah ke arahku, “Stevi, kamu mau ikut nggak?” tanya Mei, “Mau kemana emang?”, “Ke kelas XI mau ada sosialisasi katanya tadi kamu disuruh ikut kalau mau solanya anak Teater butuh kamu”, tiba-tiba bu Rosa datang, “Stevi, kamu sekarang keliling ya ke kelas XI, tadi teman-teman kamu sudah saya kasih tahu, kamu kan ketua jadi kamu yang harus aktif gerak”. Setelah mendapat beberapa ceramah, masukkan dan ocehan akhirnya aku, Mei, Wulan, Bagas, Yoga dan Ryan mulai bergerak menuju ke kelas XI di awali di kelas XI MIA 1.
“Stev, loe kenapa?” Tanya Yoga, “Ah nggak, abis ini mau ke kelas mana?”, “Ke XI IIS 1” aku terdiam, kelas itu adalah kelasnya yang selalu aku perhatikan saat diajak teman-teman ke kamar mandi, “Sekarang loe yang buka deh Stev, dari tadi kan di XI MIA loe cuma ngasih ide drama, komentar sama ngasih pendapat aja” kutarik nafas dalam-dalam, “Assalamu’alaikum” ucapku dan seketika semua mata tertuju padaku.
Aku melanjutkan kalimatku setelah menguasai hati agar tidak melayangkan fikiranku pada seseorang yang di sana, “Sebelumnya kami minta maaf karena sudah mengganggu waktu kalian, disini kami dari Music Theater Dance Club akan mengadakan sosialisasi tentang club ini”. Kutatap satu persatu mata yang ada dalam kelas itu, dan hatiku berdesir ketika tatapanku menangkap dia yang sedang duduk di sebuah bangku di sudut sana. Kuserahkan tugas selanjutnya kepada Ryan, aku mencari tempat kosong dan ternyata hanya ada satu tempat yang tersisa yaitu bangku yang ada di depannya. Aku mengurungkan niat untuk duduk karena Ryan sudah memanggilku untuk melakukan Intermezo spesial di kelas ini, “Kak Stevi silahkan” aku maju setelah menjelaskan ide cerita kepada teman-teman mulailah Intermezo di kelas XI IIS 1 ini. Kali ini aku mencoba menampilkan sesuatu yang asli dari hatiku, aku berkonsentrasi untuk mendalami cerita tersebut.
Aku melanjutkan kalimatku setelah menguasai hati agar tidak melayangkan fikiranku pada seseorang yang di sana, “Sebelumnya kami minta maaf karena sudah mengganggu waktu kalian, disini kami dari Music Theater Dance Club akan mengadakan sosialisasi tentang club ini”. Kutatap satu persatu mata yang ada dalam kelas itu, dan hatiku berdesir ketika tatapanku menangkap dia yang sedang duduk di sebuah bangku di sudut sana. Kuserahkan tugas selanjutnya kepada Ryan, aku mencari tempat kosong dan ternyata hanya ada satu tempat yang tersisa yaitu bangku yang ada di depannya. Aku mengurungkan niat untuk duduk karena Ryan sudah memanggilku untuk melakukan Intermezo spesial di kelas ini, “Kak Stevi silahkan” aku maju setelah menjelaskan ide cerita kepada teman-teman mulailah Intermezo di kelas XI IIS 1 ini. Kali ini aku mencoba menampilkan sesuatu yang asli dari hatiku, aku berkonsentrasi untuk mendalami cerita tersebut.
Suara tepuk tangan anak kelas XI IIS 1 menggema saat kuhapus air mata yang meleleh di pipiku, Wulan mempersilahkan salah satu dari mereka untuk menyampaikan pendapat atau mungkin berkomentar. Salah satu siswi mengangkat tangan, “Kak Stevi, ada yang mau menyampaikan pendapat”, “Oh iya silahkan” siswi itu mulai mengutarakan pendapatnya, “Kak, itu tadi akhirnya kan si cewek pergi ya, kenapa nggak dibuat balikan lagi aja?” aku tersenyum, “Sebenernya sih aku pengen kayak gitu, cuma kenyataannya nggak kayak gitu”, “Ouwh jadi itu kenyataan ya kak” tanya seorang siswa. Aku menatapnya yang hanya diam di sudut itu, aku mengangguk pelan kemudian tersenyum saat Bagas mulai menutup sosialisasi dengan cara dan gayanya yang unik aku sempat melihat dia tersenyum. Aku kembali ingin membuka buku putih itu, aku goreskan kisah tentang perasaanku hari ini.
19 September 2014
Ia hanya diam disana, walau ia selalu mengikuti sosialisasi ini tapi aku merasa ia begitu acuh, aku senang masih bisa melihatnya dan aku bahagia melihat senyumnya yang manis. Tuhan begitu adil, ia telah memberiku kesempatan untuk bisa berada di dekatnya meski hanya sekedar memandang.
Hidup yang aku jalani seperti tiada arti, setiap saat aku hanya berteman dengan buku putih ini. Hingga sebuah catatan membuat aku belajar untuk berhenti mengharapkannya.
Ia hanya diam disana, walau ia selalu mengikuti sosialisasi ini tapi aku merasa ia begitu acuh, aku senang masih bisa melihatnya dan aku bahagia melihat senyumnya yang manis. Tuhan begitu adil, ia telah memberiku kesempatan untuk bisa berada di dekatnya meski hanya sekedar memandang.
Hidup yang aku jalani seperti tiada arti, setiap saat aku hanya berteman dengan buku putih ini. Hingga sebuah catatan membuat aku belajar untuk berhenti mengharapkannya.
20 September 2014
Cinta itu tidak harus memiliki, hanya sebuah rasa yang dimiliki oleh hati manusia, dalam menjaga sebuah cinta kita harus hilangkan egoisme agar cinta tetap abadi. Kini aku telah kehilangan cinta itu, aku telah menyia-nyiakan kesempatan indah itu, maafkan aku cinta. Aku tidak bisa menjagamu.
Love You Alex.
Cinta itu tidak harus memiliki, hanya sebuah rasa yang dimiliki oleh hati manusia, dalam menjaga sebuah cinta kita harus hilangkan egoisme agar cinta tetap abadi. Kini aku telah kehilangan cinta itu, aku telah menyia-nyiakan kesempatan indah itu, maafkan aku cinta. Aku tidak bisa menjagamu.
Love You Alex.
Aku berusaha merelakan semua yang telah tejadi, kini aku telah terbang bersama ayah, ibu dan adik untuk memulai langkah baru demi masa depan yang indah di tempat yang jauh dari masa laluku. Sulawesi Tengah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar