Aku mengintip di balik pintu kamar. Kuperhatikan wajah laki laki itu nampaknya dia orang kaya dan terpandang. Aku rasa dia tinggal di perkotaan dari cara berpakaiannya sangat berbeda dengan orang di kampung ini. Aku melihat bapak dan ibu serius sekali dengan pembicaraan itu. Aku tidak tahu mereka membicarakan apa. Setelah beberapa saat laki laki itu akhirnya pamit pulang. Aku yang sedari tadi penasaran langsung menghampiri bapak.
“Pak yang tadi itu siapa?” tanyaku sambil duduk di depannya
“Oh maksud kamu nak Ranu” kata bapak lalu menyeruput kopi
“Untuk apa dia kesini?” tanyaku lagi
Bapak hanya mengangkat bahu tidak memberi kejelasan dan makin membuatku merasa aneh dengan sikap bapak yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Aku lalu menyusul ibu yang sedang beres beres di dapur. Ibu juga menanggapinya seperti bapak. Aku semakin dibuat penasaran.
“Oh maksud kamu nak Ranu” kata bapak lalu menyeruput kopi
“Untuk apa dia kesini?” tanyaku lagi
Bapak hanya mengangkat bahu tidak memberi kejelasan dan makin membuatku merasa aneh dengan sikap bapak yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Aku lalu menyusul ibu yang sedang beres beres di dapur. Ibu juga menanggapinya seperti bapak. Aku semakin dibuat penasaran.
Terik matahari sangat menyengat aku mempercepat langkahku. Aku sampai di rumah tapi tidak langsung masuk. Aku menguping pembicaraan antara bapak dan ibu. Aku lalu masuk yang membuat mereka terperangah. Aku berdebat hebat dengan bapak sementara ibu hanya diam tidak bersuara. Rupanya kedatangan laki laki yang bernama Ranu itu karena perjodohan. Bapak adalah teman pak Adi pemilik sawah berhektar hektar di kampung ini. Ranu dan aku dijodohkan oleh bapak. Jelas saja aku menentang perjodohan itu. Bagaimana aku bisa menerima perjodohan itu jika aku saja tidak menginginkannya.
“Ina tidak mau dijodohkan. Ina ini kan masih sekolah pak dan bukankah bapak bilang Ina akan disekolahkan sampai sarjana apa bapak lupa”
“Justru itu kamu bisa melanjutkan pendidikan setelah menikah. Ranu itu bisa membahagiakan kamu maka bapak sudah yakin kalau dia suami terbaik untukmu”
“Justru itu kamu bisa melanjutkan pendidikan setelah menikah. Ranu itu bisa membahagiakan kamu maka bapak sudah yakin kalau dia suami terbaik untukmu”
Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku tidak akan setuju bila harus menikah setelah lulus nanti. Aku gadis remaja yang masih butuh kebersamaan dengan teman teman menikmati masa mudaku. Malah disuruh menikah. Aku tidak suka dengan cara bapak yang terlalu memaksa.
“Kenapa harus Ina yang menikah dengan laki laki itu kenapa bukan kak Ratih saja”
“Kamu ini bagaimana kakakmu kan sudah menikah. Pokoknya perjodohan itu tidak akan dibatalkan” kata bapak menegaskan
Aku melempar tas sekolahku ke lantai dan pergi. Aku berlari sambil menangis.
“Kamu ini bagaimana kakakmu kan sudah menikah. Pokoknya perjodohan itu tidak akan dibatalkan” kata bapak menegaskan
Aku melempar tas sekolahku ke lantai dan pergi. Aku berlari sambil menangis.
Aku duduk di depan rumah Yana teman sekolahku.
“Kenapa wajahmu terlihat kusut begitu. Ada masalah?”
“Saya dijodohkan” lirihku
“Apa? Dijodohkan?” kata Yana nampak kaget dan bersedih
Aku menganggukkan kepala.
Yana teman laki laki yang sudah kukenal sejak lama ternyata menyimpan perasaan padaku tapi ia tidak pernah mengungkapkannya.
“Kenapa wajahmu terlihat kusut begitu. Ada masalah?”
“Saya dijodohkan” lirihku
“Apa? Dijodohkan?” kata Yana nampak kaget dan bersedih
Aku menganggukkan kepala.
Yana teman laki laki yang sudah kukenal sejak lama ternyata menyimpan perasaan padaku tapi ia tidak pernah mengungkapkannya.
Menjelang senja aku kembali ke rumah. Ibu terlihat cemas menantiku. Aku memeluknya erat dan kukatakan pada ibu aku tidak ingin perjodohan itu terjadi. Ibu tahu apa yang kurasakan tapi ibu tidak bisa berbuat apa-apa, bapak adalah orang yang tegas sekali ia bilang iya itu tidak bisa diganggu gugat.
Kenapa aku sangat keras menolak perjodohan itu tentu jawabannya sederhana aku tidak siap menikah di usia muda. Aku dan Ranu terpaut perbedaan selisih usia delapan tahun. Aku belum pernah mengenalnya dan mungkin tidak ingin mengenalnya.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar perjodohan itu dibatalkan. Bapak sangat keras tidak mau mendengar apapun yang kuucapkan padanya. Aku sudah naik kelas tiga dan setahun lagi aku menamatkan pendidikanku di sekolah menengah atas. Dan itu artinya pernikahan itu semakin dekat. Apa aku pergi saja dari rumah? tapi itu bukanlah cara yang baik. Pasti ibu akan sedih dan kecewa jika aku pergi.
Yana datang ke rumah sambil membawa sepedanya. Ya itulah kebiasaan Yana, dia selalu datang pagi untuk berangkat sekolah bersamaku. Aku mengenal Yana dari kecil dia anak yang baik juga pendiam. Di sekolah aku dan dia sering bergantian mendapatkan gelar juara di kelas. Tidak heran jika aku menganggapnya teman terbaik yang pernah aku temui di dunia ini. Sayangnya aku mungkin tidak bisa lagi seperti ini aku mungkin akan kehilangan kebersamaan dengannya. Kala perjodohan itu benar berujung pada pernikahan. Aku mengetahui Yana menyukaiku saat aku tidak sengaja membuka buku catatannya disitu ia menuliskan tentang perasaannya padaku. Bukan hanya itu dari sikapnya aku pun sudah tahu.
Hari ini tepat pengumuman kelulusan. Aku berjalan melihat di sekitarku ada yang terharu bahagia berteriak dengan gembira dan menangis. Aku melihat namaku terpampang jelas di papan pengumuman itu. Senyum mengembang di wajahku tapi hatiku berkecamuk karena setelah ini aku harus siap untuk dinikahkan.
Desiran ombak yang tiada hentinya berdecak keras di telingaku. Suasana pantai di bawah langit senja sungguh menakjubkan. Aku berdiri menatap ke depan sementara Yana terduduk di pasir.
“Kamu benar akan menikah?” kata Yana
“Begitulah” jawabku lemas lalu duduk di dekat Yana
“Aku akan pergi ke kota untuk kuliah” katanya sambil memberikan sebuah gelang
“Anggaplah ini adalah aku yang selalu ada di dekatmu” lanjutnya
Dia tersenyum sambil tertawa kecil tapi matanya menyimpan kesedihan. Aku hanya memandangnya tanpa berkata apapun. Saat itu aku berpikir tentang Yana. Apakah aku bisa bertemu lagi dengannya atau bahkan tidak sama sekali.
“Kamu benar akan menikah?” kata Yana
“Begitulah” jawabku lemas lalu duduk di dekat Yana
“Aku akan pergi ke kota untuk kuliah” katanya sambil memberikan sebuah gelang
“Anggaplah ini adalah aku yang selalu ada di dekatmu” lanjutnya
Dia tersenyum sambil tertawa kecil tapi matanya menyimpan kesedihan. Aku hanya memandangnya tanpa berkata apapun. Saat itu aku berpikir tentang Yana. Apakah aku bisa bertemu lagi dengannya atau bahkan tidak sama sekali.
Aku anak bungsu yang sering menentang bapak kerena perjodohan itu. Namun aku tahu bapak melakukan ini karena ingin aku bahagia walau sebenarnya aku tidak suka dengan caranya.
Ranu dan keluarganya datang untuk meminangku dan resmilah aku menjadi calon istrinya.
Pernahkah kamu memikirkan seseorang tapi bukan kekasih tanpa alasan yang jelas aku merindukan sosok Yana. Gelang itu melingkar di pergelangan tanganku. Aku seharusnya tidak begini karena sebentar lagi aku menjadi istri orang lain. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Saat dekat dengan Yana aku merasa tenang ada kedamaian di hatiku berbeda sekali saat aku bersama Ranu. Apakah aku mulai menyadari bahwa aku memang menyukai Yana.
“Yana, dimana kamu sekarang? Apa kamu bahagia disana? Apakah kamu sudah melupakan aku dari ingatanmu?” gumamku
Tiba-tiba ada sentuhan tangan di pundakku. Aku menoleh rupanya Ranu.
“Kamu sedang melamunkan apa?” katanya seraya duduk disampingku
“Em bukan apa-apa” jawabku ragu
Ranu terdiam sambil memandang ke hamparan sawah hijau yang luas. Aku sebenarnya sedikit canggung berada di dekatnya. Aku memalingkan wajahku aku tidak berani menatapnya.
Tiba-tiba ada sentuhan tangan di pundakku. Aku menoleh rupanya Ranu.
“Kamu sedang melamunkan apa?” katanya seraya duduk disampingku
“Em bukan apa-apa” jawabku ragu
Ranu terdiam sambil memandang ke hamparan sawah hijau yang luas. Aku sebenarnya sedikit canggung berada di dekatnya. Aku memalingkan wajahku aku tidak berani menatapnya.
Ranu laki laki yang rapi bersih tampan dan juga baik. Pasti banyak perempuan yang suka padanya. Entah mengapa dia memilihku, aku hanya gadis kampung yang masih belum mengerti banyak hal.
“Apakah kak Ranu benar ingin menikahiku?” pertanyaan itu tiba-tiba saja ke luar dari mulutku
“Tentu saja. Aku menyukaimu. Kamu gadis yang pintar. Lalu apa kamu juga sama?”
Aku menelan ludah saat mendengar pertanyaannya. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Aku tahu kamu menyukai orang lain”
Sontak perkataan itu membuatku kagok. Bagaimana dia bisa tahu.
“Tapi aku akan membuatmu menyukaiku” lanjutnya
Meski aku menyukai Yana tapi mungkin Ranu adalah jodohku. Aku harus menerimanya. Inilah yang terbaik bagiku meski ini bukanlah keinginanku.
“Apakah kak Ranu benar ingin menikahiku?” pertanyaan itu tiba-tiba saja ke luar dari mulutku
“Tentu saja. Aku menyukaimu. Kamu gadis yang pintar. Lalu apa kamu juga sama?”
Aku menelan ludah saat mendengar pertanyaannya. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Aku tahu kamu menyukai orang lain”
Sontak perkataan itu membuatku kagok. Bagaimana dia bisa tahu.
“Tapi aku akan membuatmu menyukaiku” lanjutnya
Meski aku menyukai Yana tapi mungkin Ranu adalah jodohku. Aku harus menerimanya. Inilah yang terbaik bagiku meski ini bukanlah keinginanku.
07 juli aku resmi menikah dengan Ranu. Bapak ibu dan juga kak Ratih tampak sumringah atas pernikahanku. Dan yang membuatku tertegun saat Yana ada di tengah-tengah antrian tamu yang datang. Aku tersenyum menatapnya begitupun ia membalasnya dan mengucapkan selamat atas pernikahanku dengan Ranu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar