Sabtu, 26 November 2016

jujur rasa itu masih sama

Jakarta, 20 Mei 2016
Dear dearyku,
Sudahlah, sulit aku mengatakannya jika harus kembali bercerita tentang permasalahan cinta. Cinta sesungguhnya adalah permasalahan yang begitu rumit untuk dipecahkan. Apalagi kisah cinta yang terjadi bukan sebagai status berpacaran, melainkan masih menimbulkan tanda tanya. Kisah ini, disebut sebagai kisah “Berjanji Untuk Saling Menyukai” atau “Teman Tapi Mesra”.
Cinta, terkadang saja membuat hatiku bimbang dan selalu mengutarakan suatu pertanyaan di otakku “Mungkinkah dia juga mencintaiku?”, inilah yang selalu saja ingin kutanyakan padanya. Namun, tetap saja, dia hanya bungkam dan melepas senyum tipis tanpa mimik wajah yang menyenangkan. Aku mengatakan, jika saat ini aku telah dijatuh cintakan dengan seorang pria yang begitu aneh dan selalu membuatku pusing tujuh keliling. Aku berkata demikian, dikarenakan, dari seribu pria dia adalah salah satunya yang bersikap dingin, cuek, tidak peduli, dan selalu saja bersikap kasar kepadaku. Jika aku bertanya, “Apakah ketika itu yang kamu katakan, jika kamu serius menyayangiku, adalah sungguh–sungguh, atau hanya berpura–pura?”, aku bertanya demikian kepadanya, dikarenakan aku ingin suatu kepastian yang fakta. Tapi apa daya, dia hanya diam dan kemudian memarahiku dengan nada kasar tanpa disertai dengan mimik wajah yang romantis, “Aku sudah mengatakan, jika hanya kamu yang selalu aku sayang. Dan jangan tanyakan lagi. Aku tahu, kamu hanya bersikap cemburu. Jadi, janganlah berlebihan, serta percayalah kepadaku”, jawabnya padaku, dan ini kembali membuat hatiku luluh.
Mungkin, jika rerumputan dapat berbicara dan angin dapat menceritakan apa yang aku rasakan di setiap malam, dia akan bercerita kepadanya, tentang bagaimanakah perasaanku di dalam menghadapi sikapnya, di setiap waktu. Aku percaya, pastilah, dia akan mengerti tentang perasaanku yang senantiasa bertanya akan sikapnya yang selalu saja menimbulkan tanda tanya dan keraguan di hatiku. Bagaimana mungkin aku akan percaya jika dia begitu serius menyayangiku, jikalau aku harus melihat dan mendengar, dia begitu akrab dengan seorang wanita teman kelasku?.
Apalagi, ketika itu, wanita tersebut, adalah bagian dari kisah cintanya. Walaupun disaat ini, dia mengatakan dia dan wanita tersebut hanya bersahabat, tetapi tetap saja, selalu ada rasa cemburu yang menggelora di hati dan pikiranku. Dan terkadang aku bersikap selayaknya wanita yang sangat tidak ingin kehilangan kekasihnya. Dalam waktu yang senggang, aku mencoba membuka sosial media facebookku, dan kemudian mengamati secara diam–diam, beberapa kejadian yang terjadi pada facebook wanita tersebut dan dirinya. Aku berupaya untuk mengamati, apakah yang terjadi pada mereka berdua. Sungguh, ini membuat diriku seperti layaknya seorang detektif cinta dan ini sangatlah begitu konyol.
Dalam keseharian di kampus, dia sangatlah akrab dengan wanita tersebut, dan selalu saja ada kedamaian di wajahnya. Tidak terhadapku, entah mengapa aku dan dia selalu saja berselisih paham jikalau bertemu.
Dan, kemudian, secara tiba-tiba saja, dia begitu tidak acuh kepadaku, walaupun aku dan dia dipertemukan pada suatu jalan yang sama sembari saling bertatap muka.
Dan, ketika malam yang sendu, selalu saja aku berpikir, sedang apakah dia?, bagaimanakah aku akan mengetahuinya jika dia selalu menyimpan wajahku dalam memorinya?. Bukan hanya itu, aku menyadarinya, sudah 300 kali, aku selau mengatakan di depan sahabat–sahabatku, jika aku akan melepas perasaan ini untuknya. Namun, tetap semua itu nihil. Aku tidak mampu, dan hatiku kembali berkata, “Jika aku tidak bisa melepasnya”. Aku begitu bingung, manakah yang akan aku dengarkan, kata hatiku, ataukah logikaku, yang selalu saja, secara realita melihat tingkah lakunya yang begitu aneh terhadapku dan membuat hatiku semakin bimbang tak tentu arah.
Seketika saja, ketika aku sedang membaca buku di tengah malam, hatiku selalu bercengkrama pada diriku, jika sesungguhnya dia selalu menyayangiku, dan tetaplah percaya pada hatiku, jika kecuekan yang dia tunjukkan kepadaku adalah bagian dari rasa sayangnya untukku. Ahhhhh, ini benar–benar membuat otakku semakin buntu dan hatiku semakin rumit, serta tidak percaya diri. Walaupun, saat ini sahabat–sahabatku tidaklah ingin aku kembali padanya, dan berkata aku harus melupakannya, tetap saja, hatiku kembali menolak. Pernah suatu ketika, ada seorang teman di pramuka, tempat aku bernaung dalam suatu organisasi kampus, mengungkapkan perasaannya untukku. Namun, hanya berlangsung 3 bulan, aku dan pria itu putus. Dan, apa yang terjadi, kembali lagi aku dan dia berdekatan seperti kala itu.
Aku semakin bingung bagaimanakah aku bersikap, dia selalu mengatakan jangan terlalu berharap, tetapi dia selalu ada di dekatku, dan senantiasa mengabariku dengan setiap nomor barunya.
Andaikan aku dapat berbicara dengan keras dan lantang di depannya, aku ingin mengatakan,
“Katakanlah kepadaku Candra, apakah yang kamu inginkan?. Apakah aku harus terus menunggu kepastian cinta yang kamu ukir untukku?, benarkah kamu menyukaiku?. Katakanlah Candra, apakah kamu sungguh, ingin aku kembali kepadamu?. Jujur, aku menyayangimu, namun, untuk apa, jika hati kamu bukan untukku, tetapi sesungguhnya, untuk wanita tersebut. Katakanlah sekarang, agar aku tidak terlanjur menyimpan rasa ini. Aku ingin penantianku dalam rentang 2 tahun ini berakhir. Aku ingin meyakinkan hatiku, jika kamu bukan untukku”, kata hatiku yang terus bungkam dan sulit untuk mengucapkan sepatah kata apapun, jikalau aku sedang berhadapan di depannya.
Dan, di tanggal 12 Mei 2016.
Aku melakukan suatu hal bodoh, aku menghapus pertemanan di BBM dengannya dan menghapus pertemanan di Facebook. Namun, mengapa aku menyesalinya?, dan mengapa dia hanya memberikan respon jika aku cemburu?. Tapi, tetap saja, dia benar aku cemburu. Dan cemburuku adalah ketika dia begitu akrab bersama wanita tersebut dan tidak denganku. Cemburuku adalah ketika dia dapat dengan leluasa menyapa wanita tersebut, dan bungkam di depanku. Namun apa daya, bagaimanapun setiap kata yang ingin kukatakan di depannya, jujur saja, rasaku untuknya masih sama seperti dulu.
Dan, aku juga tidak mengerti, sampai mana ini akan berakhir?. Walaupun aku sadari, sesungguhnya dia bukanlah tipe pria yang aku inginkan, dia begitu manja, egosi, keras kepala, pemarah, dan begitu kekanakan, tapi itulah aku, wanita yang menyimpan rasa untuknya, dan bersikeras ingin menjadi bagian terindah di dalam hidupnya. Dan, inilah dia, pria itu, bernama Candra, pria yang ku temui di sosial media facebook dan aku telah berada satu kelas dengannya, saat duduk di salah satu perguruan tinggi negeri, di Jakarta.
“Candra, maafkan aku, jikalau aku tidak bisa menghentikan perasaanku untuk kamu. Maafkan akan sikapku yang terkadang membuat kamu begitu tidak suka, dan jikalau kamu sudah tidak menyukaiku, dan hanya berpura-pura menyayangiku, maafkan aku, jika aku beranggapan, bahwa sikap yang kamu tunjukkan selama ini adalah serius untukku, dan pada akhirnya, inilah yang terjadi, aku kembali menyayangimu dan menyimpan rasa untukmu. Dan maafkan aku, jika aku terkadang mengganggu waktumu. Aku hanya ingin bercengkrama akrab bersamamu melewati malam yang sendu, dan Candra, maafkan aku, jika rasa sayang yang aku miliki saat ini, hanya menjadikan harimu begitu tidak bahagia karenaku”.
Ini adalah seuntai perasaanku untuk kamu. Aku bahagia, jika suatu hari kita bertemu, dan kamu berdiri dengan kesuksesan yang pernah kamu ceritakan kepadaku. Aku sayang kamu, dan sejujurnya rasaku tetap sama untuk kamu, sampai saat ini. Dikarenakan aku, belum mampu melepaskannya.
Terkadang, di suatu hari, aku sempat berpikir Candra,
Mampukah aku melepaskan perasaan ini?, ataukah untuk selamanya sampai aku lulus dalam jenjang sarjana, perasaan aku masih akan selalu bertahan untuk kamu?, aku tidak tahu, dikarenakan aku hanya mengikuti alur waktu.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar