Aku rindu hal yang bodoh itu, saat aku tak ingin pulang padahal sudah tengah malam. Hanya untuk mendapat kata “iya” dari maaf karena kesalahanku. Aku ingin sekali mengulanginya, sungguh.
Aku rindu menangis denganmu, adu argumen denganmu, kapan terakhir kali kita seperti itu? Menyusuri jalan dan tak tau tujuan hanya untuk membuang waktu bersamamu, aku rela meninggalkan kegiatan rutinku hanya untuk menikmati waktu-waktu sebelum perpisahan kita.
Aku masih menyimpan rapi rasa sayang ini, jelas di matamu, sangat ingin melupakan semua. Tapi tak semudah itu bagiku, aku tahu walaupun ini sakit, kau tahu? rasa sakit ini tak pernah putus, begitu juga kedalaman rasaku ini terhadapmu. Tak ada yang bisa melihat apalagi menjangkaunya.
Kau apa kabar? Masih ingin minum susu bersamaku? Bukankah susu murni minuman kegemaranmu saat itu? Hey jangan lupa tersenyum ya…
Cuma senyummu yang membuatku sampai sekarang belum bisa kulupa, terlalu lama memang untuk melepas semua itu. Kau masih suka tertawa nyaring hingga lepas kontrol? Itu juga kebiasaanmu.
Cuma senyummu yang membuatku sampai sekarang belum bisa kulupa, terlalu lama memang untuk melepas semua itu. Kau masih suka tertawa nyaring hingga lepas kontrol? Itu juga kebiasaanmu.
Kau bukan wanita yang dengan malu demi menjaga kefeminiman, kau tetap wanita yang dengan bebas mengekspresikan pribadimu, aku rindu. Kuharap jangan ada airmata lagi yang mengalir di pipimu, aku bisa gila bila itu harus terjadi.
Oh ya, kira-kira kapan terakhir kita bertemu? Mungkin saat kau memberiku secarik kertas karton dengan tulisan “NDA”. Itu apa? Aku sulit mengerti tentang apa yang kau maksud dari pemberian itu. Selama ini aku terus mencarimu, tapi aku tak pernah berkesempatan untuk bertemu, selalu saja ada yang menghalangi.
Terakhir aku ingat, aku pernah mimpi dan ada kehadiranmu turut memperindah mimpiku, sekitar dua minggu yang lalu, aku sangat ingat. Kau hanya meninggalkan senyum manis yang terlalu ambigu hingga sampai saat ini aku tak mengerti apa artinya itu. Kau selalu meninggalkan teka-teki yang manis.
Kapan aku bisa sepertimu? Kapan posisi ini akan bertukar? Aku juga ingin sepertimu. Selama aku masih ingat denganmu, selama itu juga waktu ini terasa lama berputarnya.
Selalu ada keinginan untuk melupakan, tapi apalah artinya melupakan apabila aku masih satu kota denganmu.
Selalu ada keinginan untuk melupakan, tapi apalah artinya melupakan apabila aku masih satu kota denganmu.
Aku tak habis pikir, jika suatu saat nanti aku harus melihatmu dengan yang lain. aku senang, bahagia, tapi sakit yang terselubung akan menjadi bahagia yang abadi.
“Apa kabar nda?”
Dua atau tiga hari kau membalas,
“Baik saja hehe, kamu gimana?”
“Baik saja hehe, kamu gimana?”
Aku mencoba ingin mengingatkan kenangan-kenangan yang dulu, tapi kau selalu menepis.
Baiklah, aku tak ingin memaksanya.
Baiklah, aku tak ingin memaksanya.
Aku ingin menangis, dengan puas aku harus menghabiskan airmata ini seandainya bisa. Biar tak ada lagi airmata selanjutnya. Jahatkah aku apabila harus dendam yang berkepanjangan? Haruskah ada lagi perjuangan yang bodoh saat dulu? Sampai sekarang kau tak pernah menjelaskan kenapa kau begini. Setiap pertanyaanku, kau selalu membalikkan pertanyaan itu. Aku sangat rindu saat kita ke alun-alun kidul. Tempat itu sangat bersahabat bagi kita. Aku menemukan kesederhanaanmu selaras dengan alun-alun kidul. Terasa ramai tapi ramah. Ditempat itulah kita pertama kali bertukar sebuah gantungan kunci yang begitu berkesan sejarahnya. Dan sampai saat ini masih kau simpan. Jangan kau berhenti untuk tersenyum sayang, hanya itulah yang membuatku bertahan sampai saat ini.
picesty nur fitriani, wanita pertama yang pernah nangis bersama denganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar