Sabtu, 26 November 2016

sulit tapi harus

Bukan sebuah tuntutan! Bukan pula sebuah paksaan yang terus menggempar otakku untuk melakukannya. Aku tidak pernah tahu, seberaninya diriku bertemu kamu pagi itu. Seolah aku sedang bermimpi. Rasanya ingin berlari sejauh mungkin, namun pikirku; bagaimana mungkin aku dapat berlari, sedang ia sudah berada di hadapanku? Aku mencoba memelekkan mataku yang terlilit ketakutan untuk sekejap memandang dirimu. Meluluhkan hatiku yang sedang gemetar hingga seluruh tubuhku pun ikut gemetar. Bagai diguncang ketakutan pagi itu. Mencoba berbicara walau hanya dengungan yang tak terdengar oleh kamu bahkan diriku tak sanggup mendengarnya. Dengungan kata-kata hanya terasa.
Sialan, mengapa aku bisa setakut ini? Padahal diriku tidak seperti ini. Apakah, karena cuacanya yang mendingin? Ahhh, rasanya pagi ini sangat cerah dan terik matahari sudah mulai menusuk.
Tanpa disadari, seperti apakah hati dan pikiranku saat berpapasan dan sekejap memandang matamu, setelah setahun menghilang dan di saat diriku mulai mencoba untuk beranjak jauh darimu. Mencoba untuk tidak berbicara tentang dirimu dan ingin menjauh dari kehidupanmu, bahkan tak lagi ingin untuk bertemu dengan dirimu. Entahlah!! Mengapa moment ini kembali terjadi saat diriku tak lagi menginginkannya? Mengapa harus ada kesempatan ini, saat aku tak memikirkannya?
Aku mencoba tenang dan melupakan semua hal tentang diriku yang tak lagi ingin bertemu kamu. Hati dan pikiranku menjadi luluh dan tersenyum gersang. Bicaramu dan kata-katamu terdengar puitis membangunkan bumi. Aku menjadi bisu, mendengar dan mencermati pembicaraanmu. Sedih hatiku dan mata ini hendak menurunkan hujan deras saat mendengar sesosok yang aku Cintai tidak lagi menginginkan aku untuk kembali ada bersamanya dalam proses hidup ini. Aku mencoba tersenyum walau hati sedang menangis, dan menganggap tidak ada masalah. Belagunya aku pagi ini, walau terasa gersang.
Sudah sedang tidak sadar aku, kalau pertemuan aku dan kamu adalah pertama dan terakhir setelah setahun menghilang, saat dirimu sudah menemukan dia yang terbaik dalam hidupmu selanjutnya. Hujan yang tertahan akhirnya turun membasahi bumi serta membanjir di lorong-lorong hatiku. Sakit!!! Hati ini bagai digempar letusan.
Aku tahu. Aku menyadari kalau diriku bukanlah sosok yang pantas untuk dan dalam hidupmu selanjutnya. Aku tahu, bahwa diriku bukan orang yang sebanding dengan dirimu dan Kekasihmu itu. Aku tahu kekurangan dan kelemahanku. Aku punya apa-apa dibanding dia yang kamu kenal sekarang. Mungkin dirimu tak menginginkan aku yang masih dalam kesusahan dan penderitaan memperjuangkan hidup ini.
Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar